Monday, May 07, 2007

Operasi Hernia dan Khitan

Jum'at, 5 Mei 2007, anak gue masuk rumah sakti PELNI di Petamburan untuk menjalani operasi hernia. Saat dia berumur 2 tahun 4 bulan. Nggak tega rasanya melihat dia harus dioperasi. Orang dewasa aja, takut kalo denger kata "operasi". Nah, ini anak kecil. Mungkin dia nggak takut, karena nggak ngerti artinya operasi. Tapi buat orang tuanya, rasanya seperti kisah Nabi Ibrahim AS yang merelakan anaknya Nabi Ismail AS untuk disembelih.

Gue masuk RS jam 08.00. Mulai operasi dijadwalkan jam 14.00. Selama menunggu operasi, rasanya pada hari itu kasih sayang buat anak gue benar-benar melimpah. Apa yang dia minta, atau bahkan dia nggak minta pun, kami kabulkan. Biasanya gue jarang beliin anak gue mainan (biasanya istri gue yang beli). Saat itu, entah kenapa, gue beliin dia mainan. Mobil-mobilan pemadam kebakaran, ambulan dan mobil crane (anak gue bilang, mobil katrol). Harga, udah bukan masalah. Gue udah nggak peduli. Anak gue sendiri seperti mengerti, dia nggak rewel, nggak minta beliin ini itu pada saat lewat etalase mainan.

Masa-masa menjelang operasi itu, harus dilewatkan anak gue dengan puasa. Puasa adalah prosedur standar yang harus dilakukan oleh siapa pun sebelum menjalankan operasi. Hal ini karena (kata dokter disini), untuk menghindari muntah pada saat operasi. Kalo perut ada isinya, pada saat disayat pisau, bisa jadi mual, dan muntah. Meski pun sudah dibius. Dan itu bisa menjadi salah satu faktor penyulit pada saat operasi.

Anak gue puasa mulai dari jam 10 pagi. Tetapi, kami mendapat pemberitahuan, kalo operasinya diundur jadi jam 15.00. Apa boleh buat, puasanya udah terlanjur mulai dari jam 10. Akibatnya, puasanya bertambah mundur 1 jam juga. Total , menjadi 5 jam. Mulai memasuki jam 13.00, anak gue udah lemes. Dia merintih-rintah minta makan. Kami bilang "Jangan dulu yah, sebentar lagi boleh mamam". Nggak tahu kenapa, dia ngerti kalo dia nggak boleh makan. Lalu dia bilang dengan merintih juga "Kalo gitu minum susu aja". (gue masih berkaca-kaca waktu nulis ini). Gue tahu, lapar bisa ditahan. Tapi haus?? Orang dewasa aja, belum tentu bisa menahan haus (kecuali Ramadhan). Nah, ini anak kecil, umur belum 3 tahun? Gue mampu untuk bisa ngasih dia minum, tapi nggak bisa. Karena dia harus operasi. Pada saat itu, gue ngebayangin, gimana anak-anak bayi para pengemis yang ada di pinggir jalan? Berapa lama mereka harus bisa menahan rasa haus karena tidak mampu mencari segelas air?

Padahal, waktu anak gue disuntik untuk ambil darah, (dia teriak kesakitan keras sekali waktu jarum suntiknya menusuk lengan dia), perasaan gue tidak secampuraduk waktu dia minta minum. Mungkin karena gue tahu, disuntik cuma sebentar sakitnya. Tapi kalo nggak boleh minum? Hausnya akan terus terasa (dan tambah besar) selama belum mendapatkan minum. Yah, gue dan istri, akhirnya membawa jala-jalan keliling rumah sakit supaya dia lupa dengan rasa hausnya.

Saat harus masuk ruang operasi pun tiba. Jam 14.30, gue udah diminta siap-siap dengan operasi itu. Anak gue sudah mulai dipakaikan baju khusus untuk operasi. Semacam baju kimono dan celana gamis buat laki-laki. Jam 15.00, kami meluncur ke kamar bedah. Sampe disana, hanya istri gue yang boleh masuk. Anak gue sama sekali tidak meronta. Mungkin karena lapar, atau dia pasrah. Gue nggak tahu. Yang pasti, dia hanya memandang sayu ke semua orang. Sesampai di kamar bedah, operasinya mundur selama 1/2 jam. Jadi kami diluar, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi didalam. Was-was. Gue nekat masuk ke dalam setelah istri gue telpon. Ternyata kru operasi masih menunggu dokternya.

Nggak lama setelah gue masuk, dokternya datang, dan anak gue masuk ke dalam kamar operasi. Pada saat anak gue diambil susternya untuk dibawa masuk ke ruang operasi, dipisahkan dari kami, orang tuanya, dia mulai menangis sambil memanggil-manggil "Bunda...bunda...". Dan pintu kamar operasi pun tertutup. Saat itu cuma suster yang memisahkan anak kami dengan kami. Siapkah kami jika ternyata yang memisahkan kami dengan anak kami adalah ALLAH SWT? Dzat Yang Maha Kuasa, yang kepada-NYA tempat seluruh kehidupan berpulang. Kami pun tersadar, bahwa kami belum siap jika hal itu terjadi.

Setelah menunggu selamat 1 jam, (dan itu terasa lebih lama dar 1 hari), anak kami pun keluar dari ruang operasi. Menurut dokter, operasi hernia-nya berlangsung lancar. Tidak ada masalah. Begitu juga dengan khitan-nya. Tidak ada masalah dengan itu. Hasilnya pun rapi. Alhamdulillah....

Masalah mulai muncul pada saat biusnya hilang. Anak kami mulai rewel. Sakit. Terutama karena sunatnya. Dia kalo mau pipis, pasti menangis. Padahal, menangis adalah salah satu aktivitas yang dihindari, untuk mempercepat kesembuhan jahitan bekas hernia. Jadi serba salah. Perih karena habis di-khitan adalah sesuatu yang wajar dan alami. Tapi karena anak kecil, anak kami masih belum bisa diberitahu dengan omongan untuk menahan rasa sakitnya.

Minggu 6 Mei 2007, kami pulang dari rumah sakit. Di rumah, dia terlihat lebih baik. Meskipun masih belum sembuh total. Tapi dia lebih ceria. Mungkin dia senang bisa berada dirumah lagi. Dia bisa bertemu dengan kakek-neneknya lagi, teteh-nya yang mengasuh dan kawan-kawannya. Dia udah mulai bisa tersenyum dan tertawa. Ah...ternyata waktu terasa begitu cepat. Rasanya baru kemaren kami memiliki anak, sekarang anak tersebut sudah disunat dan beranjak remaja. Saat kami tidak sabar untuk melihat dia sembuh total dan bisa beraktivitas seperti biasanya. Kami kangen dengan cara dia berlari, bergerak, minta gendong, dan akrobatnya.

Kami sayang kamu, Muhammad Zahran Arianto. Cepat sembuh yah dan jadi anak pintar yang taat pada Allah dan orang tua.



Powered by ScribeFire.

Post a Comment