Friday, October 19, 2007

Persiapan ke Jerman

Akhirnya, setelah tegang menunggu, gue jadi berangkat ke Jerman. Training Standard Development.
13 Oktober 2007, hari pertama Idul Fitri 1428 H, jam 18.50 WIB, gue lepas landas menuju Jerman. Sebelumnya, jam 15.40 Bunda dan Zahran terbang ke Bangka untuk berlebaran disana. Kasihan gue, karena harus Lebaran di jalan. Nggak bisa bareng dengan keluarga. :-(
Ya sudah, itu resiko. Mungkin memang rejeki gue untuk berangkat dan gue harus berkorban nggak bisa lebaran bareng dengan keluarga.

Setelah lepas landas, kurang lebih 1 jam kemudian, gue transit di Singapura. Bandara Changi memang bandara yang tidak pernah tidur. Gue transit, masih ramai saja bandara itu. Singapura memang mengandalkan jasa pelayanan, sehingga, pelayanan yang mereka tawarkan, mendekati dengan apa yang user / pelanggan mau.

Selesai transit (gue nggak kemana-mana juga :-D ), gue meneruskan perjalanan ke FrankFurt, Jerman. Lama perjalanan, kurang lebih 18 jam. Di pesawat (gue naik Lufthansa), gue benar-benar hanya duduk. Paling makan dan tidur. Untuk makan, kami pesan yang Moslem Meal. Supaya aman :-D
Tapi memang, kadang kalo dikasih nasi, nasinya beda dengan yang di Indonesia. Nasinya pera, tidak pulen seperti di Indonesia. Mungkin memang nasinya jenis yang itu. Yang penting, masih baru dan layak makan :-D

Sampai di Frankfurt, gue jam 5.45 pagi waktu Jerman. Pesawat berikutnya yang ke Berlin, akan berangkat 7.40. Waktu yang lumayan lama. Gue shalat subuh disana. Nggak ada mesjid sih, tapi bisa shalat sambil duduk. Seperti biasa, bandaranya luar biasa. Negara maju memang seperti itu. Bagus. Bersih, terstruktur rapi, dan hampir semua serba otomatis. Insya Allah Indonesia bisa mengikutinya.

Lalu, jam 7.40 gue berangkat ke Berlin. Lama perjalanan adalah kurang lebih 55 menit. Perjalanan yang singkat, makanya nggak dikasih makanan. Dan pesawatnya pun beda dengan perjalanan diatas 2 jam. Nggak ada TV (meskipun Jakarta-Frankfurt juga nggak ada TV. Hanya kelas Executive aja). Tapi ada perbedaan yang sangat menyolok dengan maskapai Indonesia.

Penumpangnya sangat tertib. Pada saat pesawat sudah mendarat, tidak ada yang menyalakan Handphone, jika pesawat belum berhenti sempurna. Nggak kayak di Indonesia, begitu roda pesawat sudah menyentuh landasan, penumpangnya sibuk untuk menyalakan handphone.

1 lagi, penumpang dan pramugari/a-nya, sangat tertib. Jika lampu tanda "Kencangkan Sabuk Pengaman" belum dimatikan, nggak ada yang bergerak dari tempat duduknya. Misalkan ke toilet atau yang lainnya. Pramugari/a-nya juga tidak bergerak untuk menyediakan makanan/minuman pada penumpang. Kalo lampu tersebut sudah dimatikan, baru mereka bisa bergerak. Hal ini belum bisa ditemukan di Indonesia. Beberapa kali saya naik pesawat, bahkan Garuda Indonesia, kadang masih ada yang tidak tertib aturan.

Akhirnya, jam 8.50 saya sampai di Berlin. Sesampainya di bandara, Alhamdulillah, sudah ada Pak Frans dari KBRI yang menjemput. Salah satu rekan perjalanan saya, ada yang sudah pernah ke Berlin, sehingga bisa berhubungan dengan Pak Frans. Thanks buat Bu Titin yang sudah membantu.

Saya sempat khawatir di tempat pengambilan bagasi. Barang-barang kami lama sekali keluar. Penumpang yang lain cepat. Alhadmulillah, setelah menunggu lama, barang-barang kami ada. Paling tidak, barang-barang kami tidak hilang :-D
Dan, Alhamdulillah, kardus yang berisi titipan untuk teman di Jerman, juga tidak hilang. Soalnya itu amanah.


Bersambung...



Berikutnya :

Keliling cari hotel


Powered by ScribeFire.

Post a Comment