Sunday, June 22, 2008

Live @ DIN Part 1

Well, setelah sampai di Jerman, gue masih punya waktu 2 minggu sebelum pulang. Memang sih, sedang tugas belajar, tapi kan sekalian melihat-lihat negeri orang.

Gue bahas dulu yang di DIN.

Hal yang menarik di DIN, adalah, mereka sangat profesional. Kelihatannya, rata-rata orang Eropa adalah seperti itu. Di DIN, setiap orang menguasai bidangnya masing-masing. Nggak ada tuh yang 1 orang menguasai banyak bidang. Lebih baik fokus pada 1 atau 2 bidang aja. Setiap orang punya tupoksinya masing-masing. Dan untuk memenuhi tupoksi tersebut, mereka harus menjadi ahli dibidangnya. [Beda dengan kantor gue, yang harus tahu hampir semua bidang. Sulit untuk fokus, karena PNS belum dididik untuk fokus. Setiap orang harus bisa mengurus pekerjaan teknisnya sendiri, dan pekerjaan administrasinya sendiri, seperti mengurus SPPD, notulen rapat, pesan hotel, dll].

Itu membuat gue terkesan pada saat mereka menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Kenapa mereka bisa fokus? Kalo menurut ilmu yang gue dapat waktu DiklatPim, orang-orang Eropa, sejak awal dididik untuk MANDIRI. Sehingga semua sendiri (yang efek negatifnya adalah individualistis). Sehingga, skill mereka secara individu akan sangat dihargai. Beda dengan orang Indonesia, yang sejak awal dididik untuk KELOMPOK (makanya ada ungkapan, makan nggak makan, yang penting kumpul). Coba aja, tanya ke orang Indonesia, apa yang menjadi ciri khas orang Indonesia? Gue hampir yakin jawabannya adalah GOTONG ROYONG. Hal ini mungkin menyebabkan orang Indonesia kadang lebih sering mengandalkan orang lain untuk suatu pekerjaan. Hal itu mengakibatkan rasa tanggung jawab yang kurang. Sehingga, seringkali pekerjaan tidak selesai dengan sempurna. (meskipun efek positifnya adalah silaturahmi yang kuat). Gue nggak bilang orang Eropa itu lebih baik dari orang Indonesia, tapi faktanya (walaupun banyak hal yang terkait dengan itu) kefokusan mereka membuat lebih matang dibidangnya dan orang-orang pintar itu mau membangun negaranya yang sekarang bisa kita lihat hasilnya.

Berikutnya adalah mengenai jam kerja. Di DIN, jam kerja bersifat floating. Defaultnya adalah jam 8 pagi sampe jam 17.30 (tapi tergantung musim, kalo musim panas, jam 17.30 masih kayak jam 4 sore di Jakarta :p). Akan tetapi, defaultnya, dalam 1 minggu, mereka harus terdaftar bekerja selama 40 jam. Caranya bagaimana, terserah. Misalkan mereka mau masuk Senin jam 7.00 pagi, dan pulang jam 19.00, maka kelebihannya tetap dihitung. Jika 3 hari berturut-turut mereka masuk seperti itu, mereka sudah mengumpulkan 36 jam. Tinggal 4 jam deh untuk hari Kamis, dan Jum'at bisa libur :D

Barusan cuma contoh kasar. Tapi mereka menghargai sekali jam kerja itu. Take home pay yang mereka terima juga lebih dari cukup untuk hidup sehari-hari. Mungkin kalo di Jakarta, defaultnya adalah sekitar 4-5 juta. [Gue masih inget waktu salah seorang expert kami di kantor, Bruno Marchall, menanyakan gaji kami. Waktu itu kawan gue bilang, kurang lebih kami digaji 100$ per bulan dan dia tercengang. How can you live? Sebelumnya, dia selalu rewel dengan pekerjaan kami yang lambat. Tapi sejak dia tahu berapa gaji kami sebulan, dia tidak pernah rewel lagi dengan pekerjaan kami. Sayang, saat ini baru Departemen Keuangan, BPK dan sedikit lembaga pemerintah lainnya yang baru menerapkan gaji PNS minimal 4 juta]. Dengan begitu, mereka bekerja dengan semangat. Gue nggak bilang, hanya faktor gaji yang membuat mereka bekerja dengan semangat, tapi faktor gaji jelas menjadi salah satu faktor penting yang membuat mereka dengan semangat.

Dengan floating time seperti itu, relatif, mereka memiliki waktu cuti yang lebih panjang. Dan gue pikir itu menjadi lebih adil. Jika mau libur lebih banyak, selesaikan dulu pekerjaan dengan sempurna, kalo perlu lembur yang efeknya adalah memenuhi target jam kerja. Kalo bekerja santai, yaa.... kesempatan istirahatnya menjadi lebih sedikit.

Sayangnya gue nggak tanya mengenai sistem stick and carrot. Tapi gue yakin itu juga ada. Ada hal-hal positif dan negatif yang bisa gue ambil dari DIN. Insya Allah itu menjadi hikmah yang berguna buat gue pribadi dan bisa gue tularkan ke keluarga dan orang-orang yang gue kenal.
Post a Comment