Sunday, June 22, 2008

Live @ DIN Part 2

Hmm...sekarang bagian kedua nih. Sekarang gue mau bicara soal kehidupan secara umum disana.

Gue beruntung bisa berkunjung ke Jerman. Jerman adalah negara maju. Yang gue kagum adalah sistem transportasinya. Terutama Subway. Subway benar-benar bisa mengurai kemacetan. Dengan daya angkut yang banyak, kecepatan tinggi, serta tingkat kepastian lama perjalanan yang mendekati 100%, maka subway menjadi jantung transportasi disana. Ada juga sih bis, dan trem [kereta yang ada di jalan raya], tapi tidak menjadi transportasi utama. [Gue jadi inget waktu ada training e-Marketing di hotel Ibis, Slipi. Trainernya adalah Alun John. Dia tanya apakah Indonesia punya Subway? Saya jawab tidak. Dan dia bilang, hmm, ini akan jadi tugas yang berat buat pemerintah Indonesia untuk mengurai kemacetan].

Sistem transportasi disana, bisa dengan membeli tiket [seperti tiket busway di Jakarta]. Tiket disana bisa dibeli harian, mingguan dan bulanan. Kalo beli bulanan, jelas lebih murah. Kesadaran yang tinggi dari para pengguna jasa transportasi disana, membuat tidak ada kondektur di bis. Kalo di kereta dan subway, kadang-kadang gue ketemu dengan kondekturnya yang memeriksa tiketnya. Pernah juga gue tanya disana, kalo nggak ada kondekturnya, nanti banyak yang nggak beli tiket dong? Jawabnya, benar, itu bisa terjadi. Tapi kalo sampe ketahuan oleh kondektur, maka dendanya cukup banyak [kalo nggak salah 3 kali lipat dari harga tiket], dan malunya itu yang nggak tahan. Jadinya, jarang terjadi ada orang yang tertangkap tidak beli tiket, atau tiketnya tidak valid.

Kebersihan kota Berlin juga menarik. Nggak ada yang buang sampah sembarang. Setiap orang kelihatannya sadar, bahwa kota itu bukan hanya milik dia, tapi juga milik orang lain. Jadi setiap orang saling menjaga kebersihan untuk itu. Hampir di setiap titik di kota dengan mudah dapat ditemukan tempat sampah. Taman-tamannya juga sangat bersih.

Keteraturan dalam menyebrang jalan juga sangat rapi. Nggak ada orang yang nyebrang jalan, kalo lampu penyebrang jalan sudah menyala hijau. Begitu juga para pengendara kendaraan bermotor. Kalo lampu lalu lintas sudah merah, mereka nggak akan nekat menerobos. Nggak ada tuh kelakuan ugal-ugalan kayak pengemudi di Jakarta. Semua tertib. Gue juga heran, kok bisa yang mereka begitu teratur? Apa yang mereka menjadi sangat kuat dalam disiplin? Mengapa mereka bisa sadar kalo ugal-ugalan itu membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain? Baiknya pertanyaan begitu, kita renungkan aja masing-masing.

Selama disana, gue jalan-jalan terus sampe malem dengan rekan gue, Esti dan Dea. Malah pernah sampe jam 3 pagi. Dan, Alhamdulillah, aman-aman aja tuh. Bahkan di waktu malam, tetap saja mereka tertib.
Gue juga sempet jalan ke kota Aachen, bareng rekan gue Esti dan Dea. Ada teman gue disana. Rina Tiara Bahroen. Ada pengalaman lucu juga waktu gue mau berangkat ke sana. Karena udah malem, waktu gue pesan tiket ke loket, ternyata si petugasnya tidak bisa bahasa Inggris. Jadilah semuanya diselesaikan dengan insting. Ha..ha.. Gue ngomong bahasa Inggris, dia balas dengan bahasa Jerman. Hancur dah :D Untungnya, gue sampe di Aachen. 6 jam perjalanan dari Berlin naik kereta cepat [lebih cepat dari Argo Bromo deh kayaknya].

Sampe di Aachen. ternyata dingin sekali. Gue berangkat dari Berlin jam 21.00-an, sampe di di Aachen, jam 5 pagi. [karena, transit keretanya ternyata lama dan kami nggak sabar, jadilah kami pindah-pindah kereta :D]. Aachen adalah kota pelajarnya Jerman. [kok feeling gue, kayaknya gue udah pernah nulis ini yah?]. Kotanya sejuk, tapi buat gue sih dingin :p. Dan Rina tinggal di asrama khusus untuk mahasiswa. Dari stasiun yang ada disana, cuma butuh 10-menitan dengan taksi untuk sampe ke tempat Rina. Istirahat sebentar ditempat Rina, jam 10-an, kita udah jalan lagi. Btw, waktu itu, jam 10 disana kayak jam 8 pagi :D

Lalu kami jalan ke Koln [harusnya diatas O ada titik duanya. Gimana cara masukin karakter itu yah?]. Disana ada gereja yang sangat bagus. Dan besar sekali. Cuma gue lupa namanya? Namanya apa Rin?
Orang Jerman kalo bikin sesuatu, sangat detail. Ukiran-ukirannya didalam gerejanya terukir rapi. Dan tidak lekang dimakan waktu. Padahal, usianya udah lama. Kalo ga salah dibuat tahun 1700-an? Jaman dulu kan nggak ada semen, kok bisa yah gerejanya awet? Di negara-negara Arab, masjid Nabawi dan Ka'bah juga tetapi awet sampe sekarang.

Pulang dari sana, gue makan kebab. Enak juga. Di Jerman adalah pertama kalinya gue makan kebab. Ternyata, kebab itu mirip hamburger, cuma buatan Turki. Isinya sih, daging juga dan halal. Yah, dinegara yang bukan muslim, gue harus hati-hati kalo mau makan :D
Malamnya, gue makan baso di tempat Rina. Dan ada Mbak Mira dan Mas Ganda yang sangat membantu kami sampai di Berlin. Thanks banget. Mas Ganda ternyata tahu banyak tentang sejarah Jerman. Jadilah kami seperti didongengin sama mereka tentang sejarah Jerman, perilaku orang Jerman dan kebiasaan disana. Sayangnya, waktu kami hanya sedikit. Kami hanya 2 hari disana.

Setelah itu, kami tidur. Dan waktu bangun, kami kaget sekali, karena sudah jam 6 pagi!! Padahal kereta kami ke Berlin berangkat jam 6 pagi. Gawat, kalo sampe ketinggalan, kereta, kami pasti ketinggalan pesawat. Karena sorenya pesawat kami berangkat ke Jakarta. Untungnya, ternyata ada pengunduran waktu. Gue lupa lagi istilahnya? Istilahnya apa Rin? Jadi, kalo pergantian musim dingin ke panas [atau terbalik yah?], jam akan secara otomatis dimundurkan 1 jam. Hal ini untuk menghemat listrik. Gue sendiri heran, apa hubungannya? Ternyata, pada musim panas, waktu siang akan lebih lama. Jadinya yang harusnya jam 6, maka disetel jam 5. Supaya nanti sore, jam 5 sore nggak perlu udah masang lampu.

Aahh....leganya ternyata keretanya dimundurkan. Jadinya kami siap-siap kesana. Nggak pake mandi, karena khawatir ketinggalan. Ini masalah hidup mati [ini di dramatisir :p]. Setelah sampe sana, kami nunggu sebentar, dan kereta pun datang. Dan kami tertidur di kereta. Bye Rina, lain kali kita ketemu lagi yah? [Oh ya, Rina adalah teman waktu SMP gue. Sejak SMA dan kuliah, jarang ketemu. Karena, Rina kuliah di Jerman. Jadi, pertemuan yang kemaren jadi pertemuan kayak reuni gitu deh :p]. Thanks juga buat Esti dan Dea. Menyenangkan sekali kita bisa jalan sama-sama.

[Habis ini nggak perlu cerita lagi, karena sampe Berlin, kami ke hotel, angkat koper, lalu ke bandara, dan terbang deh ke Jakarta]

Btw, nggak disangka-sangka, ada OJT Part 2. Mau tahu ceritanya, nanti gue tulis deh. Yang OJT Part 2 lebih seru :p
Post a Comment