Sunday, August 24, 2008

Ketergantungan terhadap Pembantu

Sabtu, 23 Agustus 2008,

Pembantu gue (Iyong atau Tia) yang biasa mengurus anak gue berhenti kerja. Dia pamit
berhenti pada hari Sabtu 23 Agustus 2008 jam 7 pagi. Dia tidak bilang alasannya. Dugaan gue adalah dia kesal dengan teguran yang kadang (atau sering) kami berikan kepada dia (herannya, kalo ada ibu gue, dia bekerja dengan baik sekali. Tapi tidak dirumah gue). Di rumah, Bunda lebih sering bekerja dengan dia. Gue kadang terima beres. Peristiwa terakhir yang gue lihat adalah dia ditegur Bunda karena lama sekali nyuapin anak gue. 1,5 jam, hanya dapat 3 suap. Dan Iyong tidak berusaha untuk membujuk agar anak gue lebih lahap makannya. Peristiwa itu ternyata diambil hati oleh Iyong. Sehingga, pada hari Jum'at, 22 Agustus 2008, dia minta berhenti. Permintaan berhenti kerja itu disampaikan via telepon ke gue saat gue masih dijalan sedang nyetir menuju rumah dari pulang kantor. Teknologi jaman sekarang memang canggih, tapi sopan santun harusnya tetap ada.



Malamnya, setelah kami beres-beres (mandi, makan, dsb), kami bicara dengan Iyong. Intinya adalah, jika berhenti adalah sudah menjadi keinginan dia, maka kami juga tidak bisa mencegahnya. Daripada dia mengurus anak gue dengan perasaan kesal, lebih baik berhenti saja. Gue khawatir efeknya akan buruk ke anak gue. Gue juga bilang, bahwa kami pasti ada kekurangan dan kelebihan, begitu juga dengan dia. Karena itu kami mohon maaf jika terjadi kesalahan dari kami. Bagaimana pun, dia telah mengurus anak gue. Dampak dari berhentinya Iyong, gue harus cari pembantu lain. Calonnya sudah ada. Insya Allah Selasa dia sudah sampe dirumah gue. Gue yakin, berhentinya Iyong, dan kemudahan mendapatkan gantinya adalah rencana Allah. DIA pasti mengirimkan yang terbaik menurut-NYA kepada gue dan keluarga.

Ketergantungan pada pembantu ini, kayaknya hanya terjadi di Indonesia. Kalo dibandingkan dengan Jerman dan Austria (negara yang pernah gue kunjungi), pekerjaan pembantu ini tidak ada. Rina, temen gue di Jerman yang saat ini sedang sekolah disana punya 2 anak yang masih balita. Sehari-hari, dia mengurus anaknya hanya dibantu dengan suaminya. Bukan main! Padahal, mereka sendiri harus bagi waktu untuk sekolah dan mungkin bekerja paruh waktu di sana. Di Austria, gue juga sempat ngobrol dengan orang KBRI disana. Dia bahkan mengurus 2 anaknya hanya sendiri. Karena suaminya tugas di Jakarta dan sudah mendapatkan posisi mapan disana. Tapi mereka bisa tuh mengurus anaknya. Kadang gue iri dengan mereka. Anak mereka mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Gue, sampe saat ini belum bisa memberikan itu. Anak gue masih dititipkan dengan pembantu pada saat gue kerja. Padahal, kalo dengan pembantu, kasih sayang dan perhatian pembantu sudah pasti berbeda dibandingkan dengan kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh orangtuanya. Yah, mudah-mudahan, suatu saat gue punya rejeki cukup supaya istri gue bisa full ngurus anak dirumah. Kegiatan utama seorang istri, jika sudah punya anak, menurut gue adalah mengurus anaknya. Bukan bekerja keras mencari uang, karena itu sudah tugas suaminya sebagai kepala keluarga. Insya Allah, jika Allah memberikan rejeki cukup kepada gue, gue akan minta istri gue berhenti bekerja.

Amiin...


Post a Comment