Monday, August 04, 2008

Pendidikan anak-anak

Sabtu, 2 Agustus 2008

Gue dan Leni berkesempatan untuk ikut acara Isra Mi'raj di TK-KB Zahran. Isi acaranya adalah lomba mewarnai buat anak-anak TK dan KB. He..he.. menarik banget. Rame banget acaranya. Semua anak diwajibkan berbusana muslim. Trus, tiap anak diminta membawa meja gambar dan crayonnya sendiri. Zahran nggak punya meja gambar, jadi bawa crayon dulu aja :D

Jam 9.00 acara lomba mewarnai dimulai. Acaranya boleh dimana saja, tetapi dalam lingkup sekolah. Itulah gunanya meja gambar. Zahran mewarnainya di taman bermain. Bareng dengan Laura dan Nazwa. Orang tua murid diminta untuk tidak mendampingi anaknya.

Ternyata, pihak sekolah udah punya acara lain untuk orang tua murid. Para orang tua murid dikumpulkan di satu ruangan, untuk mendengarkan penjelasan dari pihak sekolah mengenai visi, misi, kurikulum, dll. Wow! Itu mengejutkan. Pihak sekolah berinisiatif memberikan kepada kami selaku orang tua murid. Sayangnya, gue nggak bawa buku untuk mencatat hal-hal yang penting. Gue nggak tahu bakal ada acara itu, karena di surat pemberitahuan, tidak menyebutkan ada acara itu. Tapi, gue mau share beberapa yang gue ingat dari sana.

Menurut mereka, ada Peraturan Pemerintah / UU yang mengatakan bahwa anak TK dilarang diajarkan membaca. Kata Bu Guru-nya,
Tujuan kami mendidik anak TK (apalagi Kelompok Bermain / PlayGroup) adalah untuk kematangan emosional. Bukan agar mereka bisa membaca saat selesai dari TK.

Kurang lebih begitu yang gue tangkap.

Setelah gue pikir-pikir, memang benar. Pernah gue mendengarkan ada temen gue, yang anaknya sudah ikut Kumon sejak umur 3 atau 4 tahun gitu. Maksudnya mungkin baik. Mengenalkan matematika kepada anak sedini mungkin. Tapi, jangan sampe anak itu kehilangan waktu bermainnya. Gue tidak menyalahkan Kumon-nya. Hanya saja, perkataan Bu Guru itu juga benar.
Pekerjaan satu-satunya untuk anak-anak TK/KB adalah bermain.

Jadi, jangan rampas hak mereka. Tetangga sebelah rumah gue, kebetulan orang Jerman yang beristrikan orang Indonesia. Anaknya, seumur dengan anak gue. Tapi, Bapaknya nggak mau menyekolahkan anaknya. Dia khawatir dengan kurikulum TK/KB Indonesia [mungkin ada] yang mengajarkan membaca, dll. Malah ada orang tua yang bilang,
Udah, mainnya nanti aja kalo udah besar?

Lho? Kalo metoda yang dipake model begini, nanti anak-anak kita, akan tumbuh jadi orang dewasa yang suka bermain-main. Ini malah bahaya. Mending, mainnya pada waktunya aja. Penelitian pendidikan 20 tahun terakhir [sayang gue belum nemu referensinya], anak-anak yang tidak terkekang, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih stabil secara emosi.

1 lagi yang menarik.

Pada saat presentasi guru-guru tersebut, acara lomba gambar sudah mulai selesai. Sebagian anak sudah mulai mencari dimana orang tuanya. Dan sebagian anak juga ada yang masuk ke ruang presentasi tersebut. Anak-anak usia begitu, mana betah disuruh duduk aja sama ibunya. Apalagi lihat proyektor. Ada seorang anak yang lari-lari terus. Lalu main-main dengan bayangan proyektor sehingga cukup mengganggu jalannya presentasi yang diberikan. Ibunya mulai jengkel dengan anaknya. Gurunya, karena sudah berpengalaman, lalu berkomentar
Anak kecil memang mendengarkan dengan cara bermain. Jangan dikira, pada saat kami mengajar, meskipun mereka sambil bermain, mereka tidak mendengar. Mereka tetap mendengar. Kalo kami tanya sesuatu dari yang kami sampaikan, mereka mengerti. Beda dengan orang dewasa yang duduk tenang, memperhatikan dengan seksama, tapi kadang-kadang nggak menangkap apa yang disampaikan karena pikirannya kemana-mana

He.he.. Benar sekali. Hal seperti itu memang terjadi pada orang dewasa. Untuk yang ini, gue nggak komentar lebih banyak :p Kadang-kadang gue juga begitu :D

Well, gue mendapat wawasan baru selama disana. Di cerita selanjutnya, gue akan cerita tentang Moving Class :)
Post a Comment