Thursday, September 18, 2008

Kuliah Subuh Bagian II

Sip. Ini bagian dua-nya.

Ramadhan itu,mulia bukan karena puasanya. Tapi karena Al-Quran. Pada bulan ini, Al-Quran pertama kali diturunkan. Jadi, output dari Ramadhan (lebih tepat) bukan kembali ke fitrah (suci), tapi kembali berperilaku berdasarkan Al-Quran. Pertama-tama, gue juga heran. Kenapa begitu? Tapi logikanya bener juga sih. Pada saat puasa, kita berusaha sebaik mungkin untuk berperilaku berdasarkan Al_Quran. Tidak ngomongin orang, menahan amarah, berbaik sangka, dan perilaku yang baik-baik lainnya. Soal dosa, Allah yang punya hak untuk menentukan apakah dosa seseorang akan diampuni atau tidak.

Nah, mudah-mudahan setelah bulan Ramadhan, maka perilaku kita tetap berdasarkan Al_Quran. Tapi susah banget (kalo gampang, bukan dunia namanya :p). Kata ustad, ada 6 potensi manusia/rintangan sesorang untuk menjadi suci.

1. Istri/suami ;
Ini berlaku buat laki dan perempuan. Bisa juga disebut syahwat. Udah default-nya lawan jenis itu saling tertarik :D Tinggal bisa atau tidak dikendalikan.

2. Anak ;
Banyak orang yang membangga-banggakan anaknya. Bangga boleh, tapi jangan jadi lupa diri.

3. Emas/perak
Bisa juga disebut harta. Cerita begini, kayaknya udah banyak di sinetron Rahasia Illahi :D

4. Kendaraan ;
Jangan lupa, punya kendaraan yang bagus, bisa membuat orang sombong.

5. Ternak ;
Ini gue masih belum dapat padanannya di jaman sekarang. Tapi bisa juga, punya ternak yang banyak, bagus, malah membuat kita sombong.

6. ... ; (yang ini gue lupa :p)

Lalu, ustad tadi juga cerita. Orang hebat itu bukan orang miskin, tapi orang kaya. Maksudnya? Contoh : Kalo orang miskin tahajud karena rumahnya banyak nyamuk, itu biasa. Tapi kalo orang kaya, dengan kamar AC, tempat tidur empuk, istri cantik tapi melawan semua itu untuk tahajud, baru itu luar biasa / hebat.

Terkait shalat, ustad itu juga bilang, ada yang tanya, shalat khusu itu gimana? Ada 2 jenis.

1. Secara fikih,
shalat khusu adalah terpenuhinya seluruh syarat dan rukun (wudhu, takbir, dst)

2. Secara batin, paham arti bacaan dan tartil, tidak tergesa-gesa.

Tentang nomor 2, ada juga cerita yang secara logika, gue setuju dan masuk akal. Bulan puasa kan ada shalat tarawih, nah, disarankan imam baca surat-surat Al_Quran yang pendek-pendek aja. Jangan demonstrasi kepiawaian hafalan. Kenapa? Karena :

1. Imam mengomunikasikan shalatnya dengan jamaah. Kalo imam lupa ayat tertentu, ada makmum yang menyambungnya. Jangan sampe imam lupa, makmum nggak tahu. Nggak tahu lanjutannya masih mending, lha kalo sampe makmum nggak tahu imam ini baca surat apa, gawat tuh :D

2. Patokannya adalah yang paling lemah diantara jamaah. Kakek, nenek, anak kecil, orang sakit. Jangan sampe timbul pikiran di kepala makmum : "yah,..lama bener nih bacaannya". Kalo udah begini, bagaimana bisa khusu?

Post a Comment