Friday, October 03, 2008

Laskar Pelangi the Movie

Lebaran hari kedua, 2 Oktober 2008, gue nonton film Laskar Pelangi di bioskop dengan anak istri, serta sahabat gue Andrey. Kebetulan dia sedang ada di Jakarta. So, gue ajak aja dia nonton. Film tersebut sangat menarik. Istri gue punya novelnya. Gue belum baca, tapi penasaran juga pengen nonton karena di milis, banyak yang bilang film itu menarik.

Film Laskar Pelangi bercerita tentang SD Muhammadiyah Gantong di daerah Belitung. SD ini mengutamakan pendidikan Islam. Tapi miskin bukan main. SD ini terancam tutup, karena tidak memiliki murid baru. Untuk bisa tetap beroperasi, maka SD tersebut harus mendapatkan 10 murid baru. Dengan tekad yang sangat kuat, Bu Muslimah, guru SD tersebut, mencari 10 murid tersebut. Tapi ternyata, sampai pukul 11.00 waktu setempat, baru terkumpul 9 orang. Pada saat detik-detik terakhir, Bu Muslimah memutuskan untuk mencari 1 orang murid lagi. Tiba-tiba, ada seorang anak bernama Harun yang sedikit terbelakang, datang untuk mendaftar ke sekolah tersebut. Maka, genaplah murid baru di SD tersebut menjadi 10 orang. Yang mendaftar di sekolah tersebut adalah anak-anak pesisir dan anak-anak miskin lainnya. Tidak diceritakan secara detail mengenai gaji guru dan hal-hal mengenai keuangan lainnya.

Fokus film ini adalah bagaimana mempertahankan SD tersebut. Tokoh utama film ini adalah anak-anak Belitung tersebut. Riri Riza selaku sutradara? mengemasnya dengan baik. Film yang diangkat dari Novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata tersebut (barangkali) cukup mewakili novelnya. Liku-liku perjuangan mereka dalam mempertahankan sekolah ini sangat menarik. Kadang gue tertawa dengan kepolosan mereka sebagai anak-anak, kadang gue sedih karena alasan yang sama.

Tapi, yang paling menyentuh hati gue adalah kalimat penutup yang muncul pada saat film ini berakhir. Sutradanya mengutip Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 yang ayat 1 berbunyi "Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.". Gue merinding membaca kalimat tersebut. Benar. Pengajaran / Pendidikan adalah hak siapa pun. Tapi apa yang terjadi di negara ini? Pendidikan itu mahal. Wajib belajar 9 tahun hanya berlaku bagi mereka yang punya uang (bisa membayar). Padahal, gue yakin, banyak anak-anak diluar sana yang berotak cemerlang, tapi tidak bisa terangkat di masyarakat hanya karena anak-anak tersebut tidak punya kesempatan untuk merasakan pendidikan formal. Sekolah.

Di film tersebut diceritakan, Lintang, murid SD Muhammadiyah Gantong yang menjadi juara 1 dalam lomba Cerdas Cermat tingkat SD se-Gantong, harus berhenti sekolah tepat 1 hari setelah dia juara lomba tersebut. Alasannya adalah, ayah dia yang nelayan, meninggal dunia pada saat melaut. Dan dia harus menafkahi 2 (atau 3) adiknya yang masih kecil karena sang Ibu juga sudah tiada.

Jujur, gue sangat tidak tega melihat hal tersebut terjadi. Semoga, film ini menggugah perasaan siapa pun yang menontonnya, untuk mewujudkan UUD 1945 pasal 31 ayat 1 tadi. Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. Mari kita bantu saudara-saudara kita yang tidak mampu agar mereka dapat merasakan pendidikan. Hanya dengan ilmu, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Insya Allah....

Post a Comment