Friday, October 03, 2008

Menambah penghasilan saat pensiun

Beberapa waktu yang lalu, gue pernah diskusi dengan ayah gue. Hal sepele. Menabung. Dengan kondisi negara saat ini, dimana pemimpinnya belum ada yang berhasil membawa kesejahteraan bagi seluruh warga Indonesia, maka menabung adalah hal penting. Tidak mungkin memberantas kemiskinan menjadi 0%. Tapi kalo lihat pembagian Zakat tanggal 15 September 2008 di Pasuruan, maka kita bisa melihat betapa warga miskin masih sangat banyak.

Ayah gue cerita, ada kawannya, yang saat ini baru saja pensiun dari Eselon I di lembaga pemerintah. Dia bertanya pada ayah gue, apa saja kegiatan ayah gue setelah
pensiun. Ayah gue menjawab, main tenis dan momong (mengasuh) cucu. Tapi kawan ayah gue menanyakan pertanyaan yang membuat ayah gue terkejut. Dia tanya, "Tidak mungkin. Pasti Bapak punya kegiatan lain. Kalau tidak, bagaimana Bapak membiayai hidup?". Pensiunan seorang Eselon I di negara ini hanya sebesar 1,8 jutaan sebulan (mohon koreksi kalo gue salah). Dengan harga-harga yang naik saat ini, maka biaya tersebut tergolong cukup, kalau dikelola dengan sangat-sangat baik (gue sengaja pakai 2 kata sangat. Itu bukan kesalahan). Kawan ayah gue, ternyata pengeluarannya sangat besar. Dengan gaji pensiun sebesar itu, ternyata tidak mencukupi pengeluaran dia.

Salah satu solusinya adalah dengan menabung itu tadi. Ajaran agama dan norma manapun, pasti mengajarkan kita untuk berhemat. Jadi kita harus pandai-pandai membelanjakan harta kita. Logikanya adalah, jika kita ingin Output (pengeluaran) besar, maka Input (pemasukan) juga harus besar. Jika Input tidak mungkin diperbesar, maka Output yang harus diperkecil.

Solusi lainnya adalah, ayah gue pernah dinasehati oleh seniornya pada saat ayah gue masih muda. Seniornya bilang, setelah pensiun ada 2 cara untuk menambah penghasilan jika gaji pensiun kamu tidak cukup.

1. Terus bekerja (entah jadi konsultan, wiraswasta, mengajar, dll)
2. Mengelola investasi

Menarik sekali. Cara nomor 1, mungkin sudah sangat umum. Cara nomor 2, gue belum jelas. Ternyata, ada investasi yang paling kuno tapi relatif mudah dan menguntungkan. Yaitu mengontrakkan rumah (atau saat ini kost-kostan). Dengan mengontrakkan rumah, si pemilik rumah tidak mengeluarkan biaya apapun (kecuali mungkin biaya perawatan yang gue yakin tidak sebulan sekali). Tapi uang dari si penyewa tetap masuk (entah bulanan atau tahunan). Di daerah tempat tinggal gue, kontrak rumah yang paling murah setahu gue adalah 8 juta setahun (650 ribu-an sebulan). Lebih mahal dari itu, tentu ada. Tapi, untuk bisa menjadi pemilik rumah, tentunya harus punya perencanaan yang matang jauh hari sebelum pensiun, dan tentu saja, menabung untuk beli rumah lebih dari 1. Benar sekali, gue tergugah untuk itu. Ada pepatah yang mengatakan "Keberhasilan dari suatu kegiatan, 50 persennya adalah perencanaan".

Gue jadi lebih menyadari, bahwa hidup ini hanya sekali. Perencanaan apapun, harus dilakukan dengan baik untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Insya Allah...

Post a Comment