Thursday, September 24, 2009

Tausiyah - Tinggal di Kuburan

Menjelang bulan Ramadhan 1430 H selesai, Alhamdulillah, saya sempat mengikuti tausiyah sehabis shalat Dzuhur. Waktu itu ustadz-nya adalah Bobby Herwibowo. Saat pertama kali melihat beliau, saya sempat under estimate. Dia masih muda dan tidak terlihat seperti ustadz. Tapi saya salah. Kawan saya meyakinkan, bahwa siapa pun yang bisa berdiri di depan, pasti memiliki "sesuatu" yang bisa disampaikan. Ternyata benar.

Ustadz tersebut membawakan topik agar "Ramadhan menjadi lebih Bermakna". Biasanya, pada akhir menjelang Ramadhan selesai, banyak masjid, surau, mushalla dan tempat ibadah umat Islam lainnya apa pun namanya, yang ditinggalkan jamaahnya. Mereka sibuk menyambut Lebaran, dan lupa dengan "Hadiah" dari Allah pada 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yaitu Terbebas dari Api Neraka. Dan tentu saja, sudah tidak asing lagi di telinga Muslim di belahan bumi mana pun, bahwa pada 10 hari terakhir itu, terselip 1 malam yang disebut dengan malam Lailatul Qadr. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Dan tentu sudah tidak asing lagi, kalo konversi dari 1000 bulan itu kurang lebih 83 tahun!! Artinya, jika kita beribadah pada malam itu, maka ibadah kita (jika diterima Allah) maka itu lebih baik dari beribadah selama 83 tahun!! Bukan main!!

Menariknya, dalam rangka mendorong kita beribadah lebih giat lagi setelah bulan Ramadhan, ustadz itu punya sudut pandang yang berbeda. Kenapa dia mendorong orang untuk lebih giat beribadah di setelah bulan Ramadhan? Ada dua alasannya.
1. Untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadhan selanjutnya, (kalo ada umur)
2. Mempertahankan perilaku, ibadah-ibadah kita yang sudah baik di bulan Ramadhan, agar tidak luntur di setelah Ramadhan, karena kita tidak tahu kapan kita mati dan buat bekal di akhirat.

Saya yakin, untuk alasan kedua ini, mungkin ada yang kurang menangkap secara jelas hubungannya. Untuk itu, si ustadz tadi, memiliki sudut pandang yang lain. Bagaimana sudut pandang tersebut?

Ustadz Bobby lain bercerita. Dia punya kawan di daerah Karet. Pemakaman yang ada di Jakarta, yang dekat hotel Shangri-La. Orang Betawi. Lalu si kawan tersebut, mengajak anaknya yang berusia 7 tahun, untuk ziarah ke makam kakeknya. Saat itu, waktu masih menunjukkan kurang dari pukul 7 pagi. Tapi Jakarta pukul segitu, sudah ramai dengan orang-orang yang berangkat menuju kantor. Dan mereka pun masuk ke komplek pemakaman tersebut dengan si ayah menggandeng anaknya. Si anak, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dia mulai membaca tulisan yang tertera di batu nisan makam yang dia lewati. Fulan bin Fulan, tahun sekian s/d sekian. Fulan binti Fulana, tahun sekian s/d sekian, dan seterusnya. Makin ke dalam komplek pemakaman, ternyata usia makam tersebut makin tua. Si ayah, yang geram dengan tingkah anaknya, menggentak tangan anaknya seraya berkata "Ayo cepat, kakek menunggu do'a kita". (Lalu ustadz tersebut bertanya pada kami "Kalian tahu apa jawab si anak? Saya sendiri begitu diceritakan ayahnya, refleks berucap Astaghfirullah"). Lalu anak tersebut dengan polosnya menyahut dengan jawaban yang tidak disangka-sangka. Jawaban anak tersebut adalah "Ternyata, tinggal di kuburan lama juga yah?".

(Saya masih merinding saat menulis ini). Ya, jawaban yang pendek, tapi berarti dalam. Ustadz Bobby lalu merincinya.
Ustadz Bobby : "Kalo seandainya, kalian mendapatkan 10 kali berturut-turut malam Lailatul Qadr, berarti ibadah kalian kurang lebih setara dengan 830 tahun! Menurut kalian, apakah itu cukup?"
Hadirin terpecah tiga. Sebagian mengatakan itu cukup, sebagian tidak, sebagian (besar) diam / abstain / tidak bersuara. Lalu ustadz Bobby mengatakan "Menurut saya, Tidak!"

Kenapa tidak? Karena 1 hari di sisi Allah = 50.000 (lima puluh ribu) tahun di dunia!! Lalu bagaimana ceritanya kita bisa selamat di alam kubur kalo bekal amal kita "hanya" 830 tahun?. Apalagi yang nggak dapat malam Lailatul Qadr? Sedangkan kita yakin, bahwa siksa kubur itu ADA dan NYATA!
Ustadz Bobby : "Ada ga orang yang udah dikubur puluhan tahun?"
Jamaah : "Adaaa..."
Ustadz Bobby : "Ada ga orang yang udah dikubur ratusan tahun?"
Jamaah : "Adaaa..."
Ustadz Bobby : "Ada ga orang yang udah dikubur ribuan tahun?"
Jamaah : "Adaaa..."
Ustadz Bobby : "Nah, apa jadinya orang-orang tersebut, kalo nggak selamat di alam kubur, disiksa selama puluhan / ratusan / ribuan tahun, sedangkan sampai sekarang, tanda-tanda kiamat belum ada?" (kalo diterjemahkan : berapa lama lagi disiksanya?)
Jamaah : (terdiam...)

Ahh... benar. Saya jadi tersadar! Bagaimana saya, yang amal ibadahnya masih cetek, bisa selamat dari siksa kubur kalo hanya mengandalkan bulan Ramadhan? Itu pun kalo ibadah saya diterima, kalo nggak? Itulah sebabnya, teruslah giat beribadah. Sebab, kita nggak tahu, kalo Allah senang, kalo Allah ridha dengan amal ibadah kita, bisa jadi kita masuk surga dan dibebaskan dari siksa kubur. Ustadz Bobby lalu mengatakan, bahwa ada hadist yang mengatakan ada seorang pelacur, yang seumur hidupnya, berbuat maksiat. Kebaikannya cuma satu. Yaitu suatu saat, pelacur tersebut kehausan, dia lalu mengambil air dari sumur. Pada saat itu, dia melihat seekor anjing yang kehausan dengan lidahnya yang menjulur. Pelacur tersebut merasa kasihan. Lalu diambilnya air untuk anjing tersebut. Dan pelacur tersebut masuk surga. Mungkin itu karena Allah senang, Allah ridha dengan amal tersebut.

Lalu ada pertanyaan dari Jamaah.
Jamaah : "Ustadz, saya dengar, manusia masuk surga atau neraka adalah karena rahmat Allah. Bukan karena amalnya. Kalo begitu, kenapa kita nggak pasrah aja?"
Ustadz : "Memang benar, Allah memiliki hak prerogatif untuk memberikan rahmatnya kepada siapa pun yang Allah kehendaki. Tetapi, kita tidak tahu bagaimana kita mati. Apakah kita termasuk husnul khotimah, atau su'ul khotimah? Kita juga sama-sama tahu, kalo amal ibadah kitalah yang menentukan kita selamat atau tidak di alam kubur. Jadi jangan pasrah"

Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah untuk mendapatkan ilmu ini dari seorang ustadz Bobby Herwibowo. Ada 1 tausiyah lagi dari beliau yang saya begitu tersentuh. Supaya tidak terlalu panjang, Insya Allah saya akan menuliskannya juga pada blog ini.




Post a Comment