Wednesday, August 04, 2010

Buat Anak muda yang berani

Dikutip dari Milis kantor :

Saya pun sadar. Tidak semua bisa dirasionalkan. Ada hitungan Allah SWT yang tak bisa dinalar logika.

KESULITAN finansial adalah masalah klasik yang hampir pernah dialami setiap orang. Dalam kondisi  ini, tidak sedikit orang yang bingung, bahkan stres. Betapa tidak, hajat hidup tinggi tapi pemasukan rendah. Bahkan seringkali minus. Siapapun pasti masygul menghadapi situasi ini. Kondisi ini juga pernah saya alami.

Sebagai guru honor di sekolah swasta di kota Depok, Jabar, gaji saya hanya Rp. 250 ribu perbulan. Uang sebesar itu otomatis bakal terkulai lemas oleh kerasnya cekikan harga barang yang melambung tinggi.

Tahu sendirilah, bagaimana kejamnya kota Depok, yang tak jauh beda
dengan kota tetangganya, Jakarta.

Kendati begitu, saya tidak mau pusing, apalagi berputus asa. Meski
pendapatan kecil, tapi saya yakin, Allah SWT maha kaya dan pemberi
rezeki. Rezeki-Nya tidak akan pernah habis meski tiap detik dikeruk oleh
milyaran manusia. Dan terpenting, rezekiku, meski banyak orang di dunia,
tak akan ada yang mengambilnya. Saya yakin itu.

Karena itu, saya berniat melanjutkan kuliah S2 meski biaya belum ada.
Tapi, dengan kondisi keuangan tipis, saya jadi pesimis.

“Apa bisa gaji Rp. 250 buat biaya kuliah, sedang kebutuhan yang lain
numpuk?” batinku.

Rasioku belum bisa menerima. Hitungan matematis masih dominan ketimbang
hitungan iman. Jujur saja, hal itu membuatku berfikir keras sekitar
sebulan lamanya. Tidur pun jadi tak nyenyak. Gundah gaulana. Yang ada di
pikiran hanya satu; kuliah, kuliah, dan kuliah.

Saya pun sadar. Tidak semua bisa dirasionalkan. Ada hitungan Allah SWT
yang tak bisa dinalar logika. Sebab, pertolongan-Nya jarang bisa
diprediksi oleh logika. Entah besok, bulan depan atau jam ini juga.
Wallahu’alam. Untuk mematangkan niatku, saya pun shalat tahajud.

Sekitar sebulan lamanya, setiap di sepertiga malam, saya selalu berdoa
kepada Allah sang pengijabah doa.

“Ya Allah, jika niat saya ini baik dan bisa membantu agama-Mu, maka
mudahkanlah. Sebaliknya, jika tidak, maka jauhkanlah.”

Itulah doa yang saya panjatkan. Pendek, tapi dalam. Sebuah permintaan
sekaligus pilihan; ya atau tidak. Doa itupun saya ulang-ulang. Tak
jarang diselingi dengan deraian air mata. Meminta kepada yang Maha
Menguasai Kehidupan, memang harus begini. Mengiba. Laksana pengemis
kepada majikannya.

Hatiku pun mulai tenang. Putusan untuk lanjut kuliah telah bulat.
Tiba-tiba, ada seorang teman yang mengajak silaturahim ke salah satu
ustadz. Saya pun ikut. Kebetulan, saya mengenal ustadz yang juga pernah
menjabat sebagai anggota DPD sebuah provinsi di Indonesia bagian Timur.
Tak disangka, sang ustadz ternyata menyuruhku kuliah lagi. Tak hanya
itu, ustadz itu juga memberiku uang Rp. 300 ribu.

“Secepat mungkin, kalau bisa langsung daftar. Jangan ditunda lagi,”
ujarnya mantap.

Hatiku pun bergemuruh. Laksana deburan ombak. Bunyinya sahut menyahut
dan berakhir di batu karang. Begitu juga hatiku. Kini, ucapan tahmid dan
tasbih mengisi penuh relung hatiku.

Ya, Allah inikah tanda doaku Engkau kabulkan? Saya pun langsung
mendaftarkan diri. Ketika itu, saya langsung mendaftar magister
manajemen pendidikan Islam di sebuah universitas Islam. Jurusan itu saya
impikan sejak lama.

Saya ingin jadi “ideolog” dalam bidang pendidikan. Miris rasanya lihat
output pendidikan sekarang yang kering spiritual. Hanya kognitif saja
yang dijejali. Dengan harapan, saya bisa lahirkan generasi Islam handal.
Setidaknya mengikuti jejak Imam Al-Gahzali yang melahirkan generasi
Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima besar pembebas negeri Palestina. Ya,
itulah cita-citaku. Normatif memang!

Kendati sudah registrasi, bukan berarti masalah selesai. Saya harus
membayar uang gedung sebesar Rp. 5 juta rupiah. Tapi, lagi-lagi saya
yakin Allah SWT akan mempermudah langkah hamba-Nya yang menuntut ilmu.
Saya pun tetap optimis melangkah dengan mencari beasiswa kesana-kemari.

Alhamdulillah, akhirnya dapat beasiswa dari sebuah lembaga amil zakat
sebesar Rp. 3 juta rupiah. Uang itu sangat membantu kekurangan
pembayaran.

Kuliah pun berjalan lancar.  Depok-Bogor cukup jauh. Karena tidak punya
kendaraan, saya selalu nunut teman satu kuliah dan kebetulan punya
motor. Atau, jika tidak, saya naik angkot.

Tak terasa, tiga bulan sudah saya jalani kuliah. Tak ada masalah. Paling
keuangan dan itu bisa saya atasi. Namun, yang membuat tiba-tiba menjadi
bingung, ada seorang bapak menawarkan putrinya. Masa ada yang mau dengan
saya; anak  perantauan dan tidak punya uang. Tampang juga pas-pasan.
Saya kira, tawaran itu hanya canda. Ternyata tidak. Bapak yang tinggal
di Sukabumi, Jabar itu terlihat sangat serius.

Dia menawarkan anaknya yang sedang kuliah di sebuah universitas  di
Bandung.

“Saya percaya sama adik. Karena itu, saya ingin jodohkan anak saya,”
ujarnya serius.

Saya pun langsung mengiyakan meski belum melihat siapa calon istri saya.
Ternyata, saya kaget bukan kepalang. Calon istri saya tidak hanya sangat
cantik, tapi juga berjilbab. Sosok muslimah yang luar biasa, menurutku.

Karena tahu kondisi saya, seluruh biaya pernikahan diurus mertua. Saya
hanya ikut nyumbang Rp. 1 juta rupiah. Awalnya saya memang belum
sepenuhnya berani untuk menikah. Apalagi kalau bukan alasan ma’isyah.
Kuliah aja belum kelar, apalagi harus membiayai keluarga. Untung saja,
pihak mertua selalu men-support saya agar selalu yakin.

Menikahlah, maka engkau akan kaya, begitu dalil yang pernah saya baca.
Dan ternyata benar. Dengan pernikahanku, rezeki seolah tak pernah putus.
Baru beberapa bulan menikah, saya dapat beasiswa dari provinsi tempat
asalku sebesar Rp. 12 juta  rupiah. Tak hanya itu, istriku sangat
pengertian. Dia tidak pernah meminta sesuatu aneh-aneh, hatta, sehelai
kain pun. Subhanallah!

Jadi, sejak menikah hingga sekarang, saya belum pernah membelikan
pakaian satu stelpun. Jika ada rezeki, dan hendak saya belikan, dia
selalu menolak.

“Jangan mas, pake aja buat biaya kuliah atau membeli buku,” ujar
istriku. Saya pun bahagia dibuatnya. Anugerah paling indah dalam
hidupku. Betul, istriku adalah perhiasan terindah. Ya, istri yang
shalehah.

Kini, dari pernikahanku telah dikaruniai putri yang cantik dan imut.
Saya harap, kelak, dia jadi mujahidah shalihah dan pinter seperti
Aisyah, putri Nabi.

Tak hanya itu, kuliah S2-ku tinggal menyelesaikan tesis. Jika tidak ada
aral melintang, insya Allah, tahun depan sudah diwisuda. Dan, jika
diizinkan Allah, saya akan langsung lanjutkan ke jenjang S3. Lengkap
sudah nikmat dari Allah SWT yang diberikan kepadaku.

Bagiku, kemudahan dan nikmat Allah SWT tidak gratis diberikan.
Setidaknya, ada sebab-musababnya. Saya jadi ingat ketika mendiang ibuku
beberapa waktu hendak menghembuskan nafas terkhir berpesan kepadaku.

“Nak, jangan sedih. Jika kita tak lagi hidup bersama di dunia ini, insya
Allah kita akan sama-sama di Surga. Jadilah anak yang shalih, jalin
silaturahim, dan rajin belajar. Tahu Imam Nawawi? Jadilah seperti dia,
ulama besar yang punya karya fenomenal.”

Petuah almarhum ibu-lah yang jadi motivasi hidupku. Petuah itu yang
menyemangatiku ketika lemah. Petuah itulah yang membuka cakrawala
hidupku. Dan petuah itulah yang membuatku bercita-cita untuk belajar dan
kuliah hingga sekarang.

Meski saya tahu, ibu tidak meninggalkan kepingan rupiah, tapi dengan
petuah itu, melebih dari rupiah.

Karena petuah itulah, saya berusaha menjadi orang baik. Rajin ibadah,
jaga silaturahim, dan suka berbagi pada sesama. Dalam berbagi, misalnya,
saya selalu usahakan meski dalam segala keadaan; sempit dan lapang.
Termasuk ketika saya dapat beasiswa Rp 12 juta.

Tiba-tiba dua orang teman saya meminjam uang. Tak tanggung-tanggung,
masing-masing Rp 3 juta.  Karena butuh, tanpa merasa berat, saya
pinjamkan uang tersebut.

Saya yakin, dengan itu, Allah SWT akan mengganti rezeki jauh lebih
banyak dari itu. Dari apa yang telah saya lakukan, bisa jadi,
pertolongan Allah SWT tak pernah terputus. Saya pun selalu beramal
saleh, jika ingin pertolongan Allah terus mengucur. [ans,seperti
diceritakan Imam kepada wartawan hidayatullah.com]
Post a Comment